
|
DOKUMEN KAJIAN SOSIAL DESA ANJANI KEC. SURALAGA KAB. LOTIM
ADVOKASI BURUH MIGRANT INDONESIA AWO INTERNATIONAL
Perlindungan Buruh Migrant Perempuan (BMP) Dari Tindak Trafficking Dan Kekerasan Berbasis Gender 2018-2020 |
KATA PENGANTAR
Besarnya jumlah Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri dapat memberikan dampak positif dan negatif baikbagi negara pengirim maupun negara penerima. Dampak positif bagi negara pengirim antara lain pengurangan angkapengangguran, peningkatan kesejahteraan TKW, keluarga dan masyarakat sekitar, peningkatan penerimaan devisa sertatumbuh dan berkembangnya wirausaha.
Dampak positif bagi negara penerima antara lain dapat mengisikesenjangan pasar kerja dan meningkatkan penerimaan pajak negara. Adapun dampak negatif bagi Indonesia selakunegara pengirim antara lain memungkinkan terjadinya pengurangan tenaga kerja dalam negeri, terjadinya trafficking,pelanggaran HAM, putusnya komunikasi dengan keluarga, serta permasalahan-permasalahan lain yang dialami TKW kita diluar negeri, antara lain penipuan, penyiksaan, perkosaan, penyakit, dan lain-lain.
Yayasan Adovokasi Buruh Migrant Indonesia (ADBMI) yang bekerja sama dengan AWO International terus berupaya memberikan pendampingan dan pembinaan terhadap masyarakat untuk meningkatkan kapasitas dari masyarakat itu sendiri dengan melihat banyaknya permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh TKW kita di luar negeri yang banyak disebabkan karena tingkat pemahaman dan pengetahuan CTKW/TKW kita yang masih rendah.
Sehingga masih sangat diperlukan upaya-upaya peningkatan pemahaman dan pengetahuan Calon TKW sebelum bekerja keluar negeri, dalam rangka memberikan informasi yang lengkap, tepat, benar, dan akurat tentang Program Penempatan Dan Perlindungan Tenaga Kerja Wanita di luar negeri, antara lain dengan bekal pengetahuan dengan meningkatkan kapasitas dari TKW itu sendiri.
Program ADBMI yang bekerjasama dengan AWO International akan di laksanakan di 5 Desa Pengirim Utama Buruh Migrant di Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan berdasar pada desa-desa degna kriteria :
Desa tersebut adalah :
Ttd
ADBMI Fondation
DAFTAR ISI
Judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
Glosari
Metodologi
Ringkasan
Batas Wilayah
Batas Wilayah
Jumlah Penduduk
Profil Desa
Sejarah Desa
Potensi Sumber Daya Alam
Topografi
Pertanian
Potensi Sumber Daya Manusia
Potensi Kelembagaan
Indikator Kemiskinan
Tingkat Kesejahteraan Masyarakat
Aktivitas Harian Masyarakat
Gender
Migrasi
Analisa SWOT
Rekomendasi
Lampiran
Database Migrasi
GLOSARI
METODOLOGI
Analisis sosial (ansos) merupakan salah satu metodologi yang dikembangkan untuk mengetahui dan mendalami realitas sosial. Ansos dilakukan untuk memperoleh gambaran yang jelas dan lebih lengkap tentang sebuah situasi sosial dengan menggali hubungan-hubungan historis dan kulturalnya. Misalnya mempelajari tentang keadaan ekonomi, potensi sumber daya alam dan manusia, budaya, serta menggali informasi tentang tenaga kerja Indonesia yang ada di desa tersebut.
Ada dua metode atau data yang digunakan dalam analisa sosial (ansos) yang digunakan di Anjani Kecamatan Suralaga Kabupaten Lombok Timur.
RINGKASAN
|
Batas |
Desa/Kelurahan |
Kecamatan |
|
Sebelah Utara |
Sembalun/TNGR |
Sembalun |
|
Sebelah Selatan |
Obel-Obel |
Sambelia |
|
Sebelah Timur |
Bayan |
Bayan |
|
Sebelah Barat |
Belanting |
Sambelia |
Grafik diatas menunjukkan, luas wilayah Desa Anjani Kecamatan Suralaga Kabupaten Lombok Timur yang dirincikan dengan kriteria sebagai berikut : Luas (pemukiman : 93.30, persawahan : 281.20 ha/m2, perkebunan : 19.35 ha/m2, kuburan : 3.15 ha/m2, pekarangan : 16.25 ha/m2, perkantoran : 3.15 ha/m2, sarana umum lainya : 9.10 ha/m2 dan jumlah luar total keseluruhanya adalah 423.150 ha/m2.
Grafik tersebut menjelaskan jumlah penduduk (laki-laki : 5.338 orang, perempuan : 6.078 orang), adapun jumlah kepala keluarga sebanyak 3.544 keluarga dengan perincian kelahiran laki-laki sebanyak 122 orang dan kelahiran perempuan sebanyak 156 orang pada tahun 2016. Sumber utama penduduk Desa Anjani Kecamatan Suralaga adalah peternakan, pertanian dan perdagangan.
PROFIL DESA
Kata Anjani diambil dari sebuah kata dalam bahasa sasak yaitu kata “onjona” yang artinya “yang dituju” atau “tujuan”. Pada masa Kolonial Belanda, Desa Anjani masih merupakan sebuah hutan (gawah = bahasa sasak) dan menjadi tujuan orang-orang dari berbagai desa untuk mencari kayu, namun kemudian orang-orang itu membuat kaplingan-kaplingan dan kemudian tinggal menetap membuat pemukiman. Orang-orang yang membuat kaplingan itu berasal dari Desa Jantuk, Desa Dasan Lekong, Desa Rempung, Desa Rarang, Desa Penakak dan desa-desa lainnya. Mereka yang tinggal tersebut mengambil kaplingan dan tinggal bersama dengan orang-orang se asal. Orang-orang dari Desa Aik Anyar tinggal dan membuat pemukiman pada satu kaplingan, begitu juga dengan orang-orang dari Desa Jantuk, Desa Dasan Lekong dan orang-orang dari desa lainnya. Hal ini terlihat dari bahasa, adat istiadat dan nama kampung sesuai dengan desa asal. Pada tahun 1915 masehi, menurut Bapak Marolah Kepala Desa Anjani ke-3, Desa Aik Anyar (sekarang Desa Sukamulia) yang pada waktu itu merupakan wilayah kedistrikan Rarang Timur mendapat pemekaran wilayah, yaitu tanah hutan yang telah dijadikan pemukiman oleh orang-orang dari berbagai desa itu, yang sekarang Desa Anjani.
Dari sumber lain yang dapat diserap, bahwa hutan (tanah tegalan) tersebut merupakan tanah milik Raden Ari, sesepuh Desa Dasan Lekong. Oleh karena pemilik tanah tersebut berasal dari luar desa maka seorang petugas/karyawan kedistrikan bernama Raden Gede dari Rarang mengusulkan agar tanah tersebut diserahkan ke Desa Aik Anyar namun pada saat itu Raden Ari selaku pemilik menolak dan bersitegang dengan petugas kedistrikan sehingga permasalahan ini diajukan ke Landrat (penghulu distrik). Beberapa tahun berselang, tanah tersebut menjadi sengketa dan akhirnya pada tahun 1915 masehi, sengketa tersebut dimenangkan oleh Raden Gede karyawan distrik. Kemenangan tersebut dapat dikatakan kemenangan bersyarat, sebab sebagian tanah tersebut tetap ditempati oleh masyarakat Desa Dasan Lekong dengan izin dari Raden Gede. Untuk merayakan kemenangannya, Raden Gede berniat untuk menjadikan tanah tersebut sebagai tanah pemukiman (pedesaan), akhirnya banyak masyarakat dari berbagai desa pindah ke pemukiman baru tersebut. Melihat perkembangan masyarakat dipemukiman tersebut dan mereka sangat antusias untuk mendirikan sebuah desa maka pada tahun 1917 masehi Raden Gede bermaksud membangun pemukiman tersebut menjadi sebuah desa baru. Di akhir tahun 1917 masehi, Raden Gede menyampaikan meksudnya ke kedistrikan yang pada saat itu pemukiman ini di inspeksi oleh seorang Gubernemen Belanda yang didampingi oleh istrinya yang sedang hamil tua. Dan berselang beberapa pekan, pada saat Gubernemen melakukan insepksi melahirkanlah istrinya. Lahirlah seorang putri perempuan yang di beri nama “ANNANJANI”.
Pada tahun 1918 masehi, Raden Gede mendapat izin dari Pemerintah Kedistrikan Rarang Timur maka terbentuklah pemukiman baru tersebut menjadi sebuah desa baru dan kemudian diadakanlah pemilihan Kepala Desa. Pada pemilihan tersebut terpilihlah Mamiq Saleh sebagai Kepala Desa pertama. Di masa pemilihan kepala desa itu, Gubernemen Belanda masih berada di desa baru itu maka untuk mengingat putrinya desa baru itu diberi nama sesuai dengan nama putrinya ANNANJANI. Jadi ANNANJANI adalah asal usul kata ANJANI.
Dalam perkembangannya, Desa Anjani terbagi dalam 8 kekadusan, yaitu; Dusun Anjani Selatan, Anjani Barat, Anjani Timur, Banjar Manis, Pengendong, Majuwet, Gapuk Lauk dan Gapuk Daya.
Pada awal terbentuknya kecamatan, Desa Anjani menjadi wilayah dari Kecamatan Sukamulia, namun pada tahun 1999 masehi terjadilah pemekaran wilayah/pemekaran kecamatan di dalam wilayah Kabupaten Lombok Timur dan sebagai Bupati pada saat itu adalah Haji Sahdan, M.M..
Kecamatan Suralaga adalah salah satu kecamatan baru yang dapat dibentuk pada waktu itu dan Sar’i, S.Sos. sebagai camat pertamanya. Dengan terbentuknya Suralaga sebagai sebuah kecamatan maka sejak itu Desa Anjani menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Suralaga diantara 6 (enam) desa yang menjadi wilayahnya.
Sekitar tahun 1999 masehi terjadilah gejolak di dalam tubuh Nahdlatul Wathan (NW) sehingga sebagian santri hijrah dari Pancor ke Desa Kalijaga. Kemudian pada tahun 2000 diresmikanlah berdirinya Ponpes Syeikh Zainuddin NW Anjani dan para santri langsung dihijrahkan dari Kalijaga ke Anjani. Pada tahun 2002 masehi, terjadilah pertikaian antara orang-orang yang pro ke NW Pancor dengan orang-orang yang pro ke NW Anjani dan pertikaian tersebut berpusat di Dusun Pao’ Lombok Desa Tebaban Kecamatan Suralaga sehingga banyak penduduk Pao’ Lombok yang pindah ke Anjani. Mereka yang pindah membuat pemukiman baru di wilayah kekadusan Anjani Barat, di sekitar Ponpes Syeikh Zainuddin dengan status kependudukan masih numpang, artinya belum terdaftar secara yuridis sebagai penduduk Anjani. Pada tahun 2006 masehi, oleh Pemerintah Desa Tebaban mereka dibuatkan surat keterangan pindah secara kolektif sehingga oleh Pemerintah Desa Anjani mereka diterima/diakui secara yuridis sebagai penduduk Desa Anjani dan perkampungan mereka menjadi Rukun Tetangga (RT) baru dari kekadusan Anjani Barat yaitu menjadi RT.14 Anjani Barat.
Pada awal tahun 2011 masehi, pada masa pemerintahan Sukiman sebagai Bupati Lombok Timur, Ahyan, S.H., M.H. sebagai Camat Suralaga dan Muhammad Isnaeni sebagai Kepala Desa Anjani, Desa Anjani dimekarkan menjadi tiga desa, yaitu Desa Anjani yang terdiri dari Dusun Anjani Selatan, Anjani Barat, Anjani Timur, Banjar Manis dan sebagian wilayah Dusun Pengendong (Kampung Kerembong) sebagai desa induk, sedangkan Dusun Gapuk Lauk dan Gapuk Daya menjadi Desa Gapuk (desa baru/desa pemekaran), sementara Dusun Majuwet dan sebagian Dusun Pengendong (Kampung Pengendong) menjadi Desa Bintang Rinjani (desa baru/desa pemekaran). Bersamaan dengan itu juga, dilakukanlah pemekaran beberapa dusun yang menjadi wilayah Desa Anjani, yaitu; Dusun Anjani Selatan dan Dusun Anjani Barat. Dusun Anjani Selatan dimekarkan menjadi 3 (tiga) dusun yakni; mulai dari RT.01 sampai RT.07 menjadi Dusun Anjani Selatan, RT.08 sampai RT.11 menjadi Dusun Anjani Selatan Dua dan RT.12 menjadi Dusun Penakak. Dusun Anjani Barat dimekarkan menjadi 2 (dua) dusun yakni; RT.01 sampai RT.13 menjadi Dusun Anjani Barat dan RT.14 (RT baru) menjadi Dusun Darul Hijrah. Sedangkan Kampung Kerembong didefinitifkan menjadi sebuah dusun baru, Dusun Kerembong, dengan demikian Desa Anjani tetap terbagi dalam 8 (delapan) kekadusan.
Pada saat atau setelah pemekaran dusun tersebut yang menjadi Kepala Dusun adalah :
Nama-nama Kepala Desa Anjani sejak berdirinya Desa Anjani sampai sekarang adalah sebagai berikut :
Grafik diatas menunjukkan, luas wilayah Desa Anjani Kecamatan Suralaga Kabupaten Lombok Timur yang dirincikan dengan kriteria sebagai berikut : Luas (pemukiman : 93.30, persawahan : 281.20 ha/m2, perkebunan : 19.35 ha/m2, kuburan : 3.15 ha/m2, pekarangan : 16.25 ha/m2, perkantoran : 3.15 ha/m2, sarana umum lainya : 9.10 ha/m2 dan jumlah luar total keseluruhanya adalah 423.150 ha/m2.
Dari grafik tersebut terlihat luas tanah yang dijadikan sebagai areal persawahan yang menggunakan air irigasi seluas 132.11 ha/m2 dan luas areal persawahan menggunakan tadah hujan seluas 128.89 ha/m2 dengan total jumlah luas arela persawahan 261 ha/m2.
Grafik tersebut menunjukkan luas tanah (tegal/ladang : 90.89 ha/m2, pemukiman : 27 ha/m2, pekarangan 11 dan total kesuluruhanya adalah 128.89 ha/m2.
|
Tanah Perkebunan |
||
|
Tanah Perkebunan Rakyat |
- |
ha/m2 |
|
Tanah Perkebunan Negara |
- |
ha/m2 |
|
Tanah Perkebunan swasta |
- |
ha/m2 |
|
Tanah Perkebunan seseorang |
11 |
ha/m2 |
|
Total Luas |
11 |
ha/m2 |
|
Tanah Fasilitas Umum |
||
|
Kas Desa |
|
ha/m2 |
|
a. tanah bengkok |
0,82 |
ha/m2 |
|
b. tanah titi sara |
|
ha/m2 |
|
c. kebun desa |
3,25 |
ha/m2 |
|
Lapangan olahraga |
0,017 |
ha/m2 |
|
Perkantoran Pemerintah |
1 |
ha/m2 |
|
Ruang publik/taman kota |
|
ha/m2 |
|
Tempat pemakaman desa/umum |
3 |
ha/m2 |
|
Tempat pembuangan sampah |
|
ha/m2 |
|
Bangunan sekolah/Perguruan tinggi |
4 |
ha/m2 |
|
Pertokoan |
0,015 |
ha/m2 |
|
Fasilitas Pasar |
|
ha/m2 |
|
Terminal |
- |
ha/m2 |
|
Jalan |
2 |
ha/m2 |
|
Daerah Tangkapan air |
- |
ha/m2 |
|
Usaha Perikanan |
0,04 |
ha/m2 |
|
Sutet/aliran listrik tegangan tinggi |
|
ha/m2 |
|
Tower XL dan Telkomsel |
|
ha/m2 |
|
Total Luas |
14.142 |
ha/m2 |
|
Curah hujan |
8,83 |
Mm/Th |
|
Jumlah bulan hujan |
6 |
Bulan |
|
Kelembapan |
|
0C |
|
Suhu rata-rata harian |
24,35 |
0C |
|
Tinggi tempat dari permukaan laut |
200 |
Mdpal |
|
Bentangan wilayah |
|||
|
Desa Dataran rendah |
Tidak |
423.150 |
ha/m2 |
|
Desa berbukit-bukit |
Tidak |
- |
ha/m2 |
|
Desa Dataran tinggi/pegunungan |
Tidak |
- |
ha/m2 |
|
Desa lereng gunung |
Tidak |
- |
ha/m2 |
|
Desa tepi pantai/pesisir |
Tidak |
- |
ha/m2 |
|
Desa kawasan rawa |
Tidak |
- |
ha/m2 |
|
Desa kawasan gambut |
Tidak |
- |
ha/m2 |
|
Desa aliran sungai |
Tidak |
- |
ha/m2 |
|
Desa bantaran sungai |
tidak |
- |
ha/m2 |
|
Letak |
|||
|
Desa kawasan perkantoran |
Ya |
1 |
ha/m2 |
|
Desa kawasan pertokoan/bisnis |
Ya |
0,015 |
ha/m2 |
|
Desa kawasan campuran |
Ya |
- |
ha/m2 |
|
Desa kawasan industry |
Ya |
|
ha/m2 |
|
Desa kawasan kepulauan |
Tidak |
- |
ha/m2 |
|
Desa kawasan pantai/pesisir |
Tidak |
- |
ha/m2 |
|
Desa kawasan hutan |
Tidak |
- |
ha/m2 |
|
Desa kawasan taman suaka |
Tidak |
- |
ha/m2 |
|
Desa kawasan taman wisata |
Tidak |
- |
ha/m2 |
|
Desa perbatasan dengan negara lain |
Tidak |
- |
ha/m2 |
|
Desa perbatasan dengan provinsi lain |
Tidak |
- |
ha/m2 |
|
Desa perbatasan dengan kabupaten lain |
Tidak |
- |
ha/m2 |
|
Desa perbatasan dengan kecamatan lain |
Ya |
|
ha/m2 |
|
Desa DAS/bantaran sungai |
Tidak |
- |
ha/m2 |
|
Desa rawan banjir |
Tidak |
- |
ha/m2 |
|
Desa potensial tsunami |
Tidak |
- |
ha/m2 |
|
Desa rawan jalur gempa bumi |
Tidak |
- |
ha/m2 |
|
Orbitasi |
|||
|
Jarak ke Ibu Kota Kecamatan |
3,5 |
KM |
|
|
Lama jarak tempuh ke Ibu Kota kecamatan dengan sepeda motor |
0,15 |
Jam |
|
|
Lama jarak tempuh ke Ibu Kota kecamatan dengan jalan kaki |
1 |
Jam |
|
|
Kendaraan umum ke Ibu kota kecamatan |
|
Ada |
|
|
Jarak ke Ibu Kota Kabupaten |
8,5 |
KM |
|
|
Lama jarak tempuh ke Ibu Kota kabupaten dengan sepeda motor |
0.20 |
Jam |
|
|
Lama jarak tempuh ke Ibu Kota kabupaten dengan jalan kaki/non motor |
2 |
Jam |
|
|
Kendaraan umum ke Ibu kota Kabupaten |
|
Ada |
|
|
Jarak ke Ibu Kota Provinsi |
48 |
KM |
|
|
Lama jarak tempuh ke Ibu Kota kecamatan dengan sepeda motor |
2 |
Jam |
|
|
Jumlah keluarga memiliki tanah pertanian |
927 |
Keluarga |
|
Tidak memiliki |
2,396 |
Keluarga |
|
Memiliki kurang 1 ha |
927 |
Keluarga |
|
Memiliki 1,0 – 5,0 ha |
|
Keluarga |
|
Memiliki 5,0 – 10 ha |
|
Keluarga |
|
Memiliki lebih dari 10 ha |
- |
Keluarga |
|
Jumlah total keluarga petani |
927 |
Keluarga |
|
Jumlah keluarga memiliki tanah perkebunan |
213 |
Keluarga |
|
Tidak memiliki |
3110 |
Keluarga |
|
Memiliki kurang 5 ha |
213 |
Keluarga |
|
Memiliki 10 – 50 ha |
- |
Keluarga |
|
Memiliki 50 – 100 ha |
- |
Keluarga |
|
Memiliki lebih dari 100 ha |
- |
Keluarga |
|
Jumlah total keluarga perkebunan |
213 |
Keluarga |
|
Kepemilikan usaha perkebunan yg dimiliki Negara |
- |
|
|
Total jumlah perkebunan |
10 |
Ha |
|
Jumlah laki-laki |
5338 |
Orang |
|
Jumlah perempuan |
6078 |
Orang |
|
Jumlah total |
11416 |
Orang |
|
Jumlah kepala keluarga |
3544 |
KK |
|
Total |
26376 |
Orang |
|
Usia |
Laki-laki |
Perempuan |
Usia |
Laki-laki |
Perempuan |
||||||
|
0-12 |
Bulan |
112 |
Orang |
156 |
orang |
39 |
tahun |
74 |
Orang |
78 |
Orang |
|
1 |
Tahun |
80 |
Orang |
111 |
orang |
40 |
tahun |
72 |
Orang |
80 |
Orang |
|
2 |
Tahun |
82 |
Orang |
109 |
orang |
41 |
tahun |
73 |
Orang |
79 |
Orang |
|
3 |
Tahun |
79 |
Orang |
109 |
orang |
42 |
tahun |
75 |
Orang |
77 |
Orang |
|
4 |
Tahun |
85 |
Orang |
96 |
orang |
43 |
tahun |
71 |
Orang |
81 |
Orang |
|
5 |
Tahun |
90 |
Orang |
95 |
orang |
44 |
tahun |
69 |
Orang |
83 |
Orang |
|
6 |
Tahun |
105 |
Orang |
149 |
orang |
45 |
tahun |
70 |
Orang |
82 |
Orang |
|
7 |
Tahun |
119 |
Orang |
135 |
orang |
46 |
tahun |
72 |
Orang |
80 |
Orang |
|
8 |
Tahun |
115 |
Orang |
139 |
orang |
47 |
tahun |
68 |
Orang |
84 |
Orang |
|
9 |
Tahun |
111 |
Orang |
143 |
orang |
48 |
tahun |
67 |
Orang |
85 |
Orang |
|
10 |
Tahun |
126 |
Orang |
131 |
orang |
49 |
tahun |
76 |
Orang |
76 |
Orang |
|
11 |
Tahun |
85 |
Orang |
102 |
orang |
50 |
tahun |
75 |
Orang |
75 |
Orang |
|
12 |
Tahun |
87 |
Orang |
100 |
orang |
51 |
tahun |
74 |
Orang |
78 |
Orang |
|
13 |
Tahun |
89 |
Orang |
98 |
orang |
52 |
tahun |
72 |
Orang |
80 |
Orang |
|
14 |
Tahun |
86 |
Orang |
101 |
orang |
53 |
tahun |
73 |
Orang |
79 |
Orang |
|
15 |
Tahun |
83 |
Orang |
104 |
orang |
54 |
tahun |
74 |
Orang |
77 |
Orang |
|
16 |
Tahun |
88 |
Orang |
99 |
orang |
55 |
tahun |
67 |
Orang |
80 |
Orang |
|
17 |
Tahun |
85 |
Orang |
102 |
orang |
56 |
tahun |
65 |
Orang |
82 |
Orang |
|
18 |
Tahun |
93 |
Orang |
94 |
orang |
57 |
tahun |
68 |
Orang |
79 |
Orang |
|
19 |
Tahun |
92 |
Orang |
95 |
orang |
58 |
tahun |
69 |
Orang |
78 |
Orang |
|
20 |
Tahun |
87 |
Orang |
100 |
orang |
59 |
tahun |
70 |
Orang |
77 |
Orang |
|
21 |
Tahun |
85 |
Orang |
102 |
orang |
60 |
tahun |
66 |
Orang |
81 |
Orang |
|
22 |
Tahun |
86 |
Orang |
101 |
orang |
61 |
tahun |
13 |
Orang |
26 |
Orang |
|
23 |
Tahun |
90 |
Orang |
97 |
orang |
62 |
tahun |
14 |
Orang |
25 |
Orang |
|
24 |
Tahun |
89 |
Orang |
98 |
orang |
63 |
tahun |
13 |
Orang |
26 |
Orang |
|
25 |
Tahun |
88 |
Orang |
98 |
orang |
64 |
tahun |
12 |
Orang |
27 |
Orang |
|
26 |
Tahun |
95 |
Orang |
80 |
orang |
65 |
tahun |
15 |
Orang |
24 |
Orang |
|
27 |
Tahun |
72 |
Orang |
81 |
orang |
66 |
tahun |
16 |
Orang |
23 |
Orang |
|
28 |
Tahun |
71 |
Orang |
79 |
orang |
67 |
tahun |
12 |
Orang |
27 |
Orang |
|
29 |
Tahun |
73 |
Orang |
77 |
orang |
68 |
tahun |
11 |
Orang |
28 |
Orang |
|
30 |
Tahun |
75 |
Orang |
76 |
orang |
69 |
tahun |
15 |
Orang |
24 |
Orang |
|
31 |
Tahun |
74 |
Orang |
78 |
orang |
70 |
tahun |
12 |
Orang |
27 |
Orang |
|
32 |
Tahun |
71 |
Orang |
81 |
orang |
71 |
tahun |
12 |
Orang |
28 |
Orang |
|
33 |
Tahun |
65 |
Orang |
97 |
orang |
72 |
tahun |
16 |
Orang |
24 |
Orang |
|
34 |
Tahun |
64 |
Orang |
98 |
orang |
73 |
tahun |
15 |
Orang |
25 |
Orang |
|
35 |
Tahun |
75 |
Orang |
77 |
orang |
74 |
tahun |
14 |
Orang |
26 |
Orang |
|
36 |
Tahun |
74 |
Orang |
78 |
orang |
75 > |
tahun |
24 |
Orang |
30 |
Orang |
|
37 |
Tahun |
72 |
Orang |
80 |
orang |
TOTAL |
5338 |
Orang |
6078 |
Orang |
|
|
38 |
Tahun |
70 |
Orang |
82 |
orang |
||||||
|
Tingkat pendidikan |
Laki-laki |
Perempuan |
||
|
Usia 3-6 tahun yang belum masuk TK |
195 |
Orang |
228 |
Orang |
|
Usia 3-6 tahun yang sedang TK/play group |
144 |
Orang |
172 |
Orang |
|
Usia 7-18 tahun yang tidak pernah sekolah |
87 |
Orang |
53 |
Orang |
|
Usia 7-18 tahun yang sedang sekolah |
967 |
Orang |
941 |
Orang |
|
Usia 18-56 tahun yang tidak pernah sekolah |
63 |
Orang |
80 |
Orang |
|
Usia 18-56 th yang pernah SD tapi tdk tamat |
367 |
Orang |
514 |
Orang |
|
Tamat SD/sederajat |
326 |
Orang |
456 |
Orang |
|
Usia 12-56 tahun tidak tamat SLTP |
408 |
Orang |
551 |
Orang |
|
Usia 18-56 tahun tidak tamat SLTA |
432 |
Orang |
555 |
Orang |
|
Tamat SLTP/sederajat |
830 |
Orang |
946 |
Orang |
|
Tamat SLTA/sederajat |
783 |
Orang |
241 |
Orang |
|
Tamat D-1 /sederajat |
16 |
Orang |
7 |
Orang |
|
Tamat D2/sederajat |
48 |
Orang |
59 |
Orang |
|
Tamat D3/sederajat |
25 |
Orang |
19 |
Orang |
|
Tamat S1/sederajat |
83 |
Orang |
126 |
Orang |
|
Tamat S2/sederajat |
2 |
Orang |
|
Orang |
|
Tamat S3/sederajat |
|
Orang |
|
Orang |
|
Tamat SLB A |
|
Orang |
|
Orang |
|
Tamat SLB B |
|
Orang |
|
Orang |
|
Tamat SLB C |
|
Orang |
|
Orang |
|
|
|
Orang |
|
Orang |
|
TOTAL JUMLAH |
4776 |
ORANG |
4948 |
ORANG |
|
Jenis Pekerjaan |
Laki-laki |
Perempuan |
||
|
Petani |
706 1557 |
Orang |
345 |
Orang |
|
Buruh tani |
435 |
|||
| Lampiran File Kajian Sosaial Desa Anjani |
Unduh |




































